You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Tenggulunan
Desa Tenggulunan

Kec. Candi, Kab. Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur

SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DESA TENGGULUNAN KECAMATAN CANDI KABUPATEN SIDOARJO

Sejarah Desa

Sekdes 26 Agustus 2016 Dibaca 950 Kali

Sejarah Berdirinya Desa Tenggulunan Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo

Desa Tenggulunan - Desa Tenggulunan termasuk wilayah Kecamatan Candi dengan luas wilayah 56.770 hektar.  Jumlah Penduduk 7.227 jiwa dengan 3.684 jiwa laki-laki dan 3.543 jiwa perempuan.  Letak Geografis desa Tenggulunan berada di wilayah Selatan Kabupaten Sidoarjo. Saat ini Desa Tenggulunan berbatasan dengan Desa Larangan dan Kelurahan Sidokare di sebelah utara, Desa Bligo di sebelah timur, Desa Sugihwaras di sebelah selatan, serta Desa Sumokali di sebelah barat. Perkembangan desa yang pesat menjadikan masyarakatnya memiliki mata pencaharian yang beragam, mulai dari petani, buruh, pegawai swasta, wiraswasta, ASN, TNI/Polri hingga sektor jasa. Jarak tempuh ke Kecamatan sejauh 2 Kilometer dengan lama tempuh 10 menit. Jarak tempuh ke Kabupaten Sidoarjo sejauh 3 Kilometer dengan lama tempuh sekitar 15 Menit.

Namun jauh sebelum menjadi desa yang maju seperti sekarang, wilayah Tenggulunan diyakini masih berupa hutan belantara. Berdasarkan tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun oleh para sesepuh desa, kawasan ini mulai dibuka oleh seorang ulama sekaligus tokoh penyebar Islam bernama Mbah Rohmad (Rahmat) Syamsudin. Beliau dipercaya sebagai pembabat alas, pendiri (muassis), sekaligus sesepuh Desa Tenggulunan.

Menurut cerita masyarakat, Mbah Rohmad Syamsudin merupakan seorang ulama yang juga dikenal sebagai panglima pada masa Kerajaan Mataram Islam. Dalam perjalanan dakwahnya beliau bersama para pengikut datang ke wilayah yang masih belum berpenghuni. Dengan semangat perjuangan, kebijaksanaan, dan keteguhan iman, kawasan hutan tersebut dibuka menjadi permukiman yang kemudian berkembang menjadi sebuah desa.

Selain membuka wilayah, Mbah Rohmad Syamsudin juga menanamkan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat. Dakwah beliau dilakukan secara damai melalui pendidikan agama, pembinaan akhlak, gotong royong, musyawarah, dan persaudaraan. Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi fondasi kehidupan masyarakat Tenggulunan yang hingga kini masih terpelihara dalam berbagai tradisi sosial dan keagamaan.

Asal-usul Nama Tenggulunan

Nama Tenggulunan diyakini berasal dari pohon Trenggulun (Protium javanicum Burm.), yaitu tumbuhan khas Pulau Jawa yang dahulu banyak tumbuh di kawasan ini. Pohon tersebut memiliki batang yang kuat dan berduri serta menghasilkan buah kecil berwarna merah yang dapat dikonsumsi. Pohon Trenggulun tumbuh didataran rendah sekitar 35 meter dpl sampai 251 meter dpl. Disamping itu buah trenggulun berkhasiat untuk mencegah seriawan namun bagi yang belum mencicipi sama sekali akan terkena efek samping dari buah trenggulun yaitu tenggorokan terasa gatal. namun efek samping ini hanya bersifat sementara. Karena keberadaannya yang melimpah, masyarakat pada masa itu kemudian mengenal kawasan tersebut sebagai Tenggulunan, yang secara etimologis berkaitan dengan pohon Trenggulun.

Kajian toponimi juga menunjukkan bahwa nama Tenggulunan memiliki akar sejarah yang sangat tua. Dalam Prasasti Biluluk yang berasal dari masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk sekitar abad ke-14 (sekitar tahun 1366 - 1397 M) disebutkan adanya wilayah bernama Ka Tanggulunan, sebuah desa swatantra yang memiliki aktivitas ekonomi berupa produksi garam, gula aren, dan dendeng. Toponimi Ka Tanggulunan dalam prasasti tersebut menjadi analisa tersendiri, ada 3 daerah yang memiliki daerah nama yang hampir sama, Sidoarjo, Gresik dan Lamongan. Meskipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan keterkaitannya dengan Desa Tenggulunan saat ini, keberadaan nama tersebut menunjukkan bahwa toponimi Tenggulunan telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit.

Sejumlah bukti sejarah lainnya turut memperkuat dugaan bahwa kawasan Tenggulunan telah dihuni sejak lama. Di kompleks makam kuno desa ditemukan berbagai peninggalan seperti nisan bergaya Mataraman, lingga batu, serta sebaran bata kuno yang menunjukkan adanya aktivitas permukiman pada masa lampau. Dalam kawasan yang sama juga terdapat makam Mbah Rohmad Syamsudin, Mbah Bajang, dan Mbah Langsing Joyo Teruno yang hingga kini masih dihormati masyarakat sebagai bagian dari sejarah desa.

Keberadaan peta kolonial tahun 1892 dan 1922 yang mencantumkan nama Tenggulunan semakin memperlihatkan bahwa desa ini telah dikenal sebagai satuan permukiman sejak masa pemerintahan Hindia Belanda.

Mbah Rohmad Syamsudin sebagai Muassis Desa

Dalam kehidupan masyarakat Tenggulunan, Mbah Rohmad Syamsudin tidak hanya dikenang sebagai tokoh agama, tetapi juga sebagai pendiri desa yang berhasil membangun kehidupan masyarakat yang religius, rukun, dan bergotong royong. Makam beliau hingga kini menjadi tempat ziarah masyarakat maupun peziarah dari berbagai daerah.

Sejak sekitar tahun 1970-an para tokoh masyarakat berupaya menelusuri identitas makam tersebut. Berdasarkan penuturan para sesepuh, makam itu kemudian diyakini sebagai makam Mbah Rahmat Syamsudin, ulama sekaligus pembabat alas Desa Tenggulunan. Tradisi penghormatan kepada beliau terus dilestarikan melalui kegiatan ziarah dan tabur bunga yang dilaksanakan setiap peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia serta kegiatan haul atau ruwat desa setiap tahun. Tradisi tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap jasa para pendiri desa sekaligus sarana mempererat persatuan masyarakat.

Perkembangan Pemerintahan Desa

Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya kehidupan masyarakat, sistem pemerintahan desa terus mengalami perkembangan. Berdasarkan penuturan para sesepuh, urutan kepala desa yang pernah memimpin Desa Tenggulunan adalah sebagai berikut:

  1. Kek Sebo
  2. Djojo Menggolo
  3. Mbah Djojo
  4. Kerto Redjo
  5. Towo Redjo
  6. Truno Djoyo
  7. Saan             ( 1945 – 1970)
  8. Abdul Salam ( 1970 – 1990)
  9. Suyadi           (1990 – 2011)
  10. Sumartoyo     (2011 – 2017)
  11. Akhmad Idom Maun (2017 – 2026)
  12. H. Suyadi      (2026 – sekarang)

Pergantian kepemimpinan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang pembangunan Desa Tenggulunan menuju desa yang semakin maju, mandiri, dan sejahtera.

Penutup

Sejarah Desa Tenggulunan merupakan perpaduan antara data sejarah, kajian toponimi, peninggalan arkeologis, serta tradisi lisan yang hidup di tengah masyarakat. Keberadaan nama Tenggulunan yang telah dikenal sejak masa lampau, peninggalan situs-situs kuno, dan sosok Mbah Rohmad Syamsudin sebagai pembabat alas memberikan identitas historis yang kuat bagi desa ini.

Warisan terbesar para pendiri desa bukan hanya berupa terbentuknya sebuah permukiman, melainkan juga nilai-nilai religius, kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial yang tetap menjadi karakter masyarakat Tenggulunan hingga sekarang. Oleh karena itu, pelestarian sejarah desa bukan sekadar menjaga ingatan terhadap masa lalu, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun masa depan Desa Tenggulunan yang tetap berpijak pada jati diri, budaya, dan kearifan lokalnya.

 

Dokumen Lampiran

Logo-Pemdes.docx
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image